If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Feb 12, 2008
Berponsel = Bunuh Diri

Pasti pernah lihat pengendara nekat berponsel saat motor melaju. Cuek bebek ngobrol di jalur tengah sementara motor terus melaju. Gebleknya lagi, ada yang pakai acara baca atau balas sms segala. Weleh...weleh... Ngeselin, deh!

 

 

Tingkah menyebalkan itu bukan cuma membahayakan diri sendiri. Orang lain juga bisa kena. “Terjadi distraksi alias konsentrasi berkendara pecah. Antara menjawab panggilan dan melihat situasi lalu lintas sekitar,” kata Anggono Iriawan, Chief Instruktur Safety Riding dari PT Astra Honda Motor (AHM).

 

Handling berkendara juga bakal tidak karuan. Maklum, setang cuma dipegang satu tangan. Tangan lain kan pegang handphone. Sekalipun diakali dengan handsfree tapi tetap saja kegiatan cakap-cakap itu bikin pengendara enggak konsen. “Di beberapa negara ini daingap bunuh diri. Makanya masuk pelanggaran berat lalu lintas,” wanti Anggono lagi.

 

Menurut survei, kecelakaan di Amerika Serikat, sebanyak 26 persen terjadi karena distraksi tadi. Angka itu berkisar sekitar 8.000 kecelakaan per hari. Nah bisa dibayangkan betapa besarnya pengaruh pecahnya konsentrasi tadi terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan.

 

Lantas bagaimana kalau handphone berdering saat berkendara? Saran MOTOR Plus, jangan simpan ponsel di kantung celana atau baju dan jaket. Itu tetap mengganggu kosentrasi. Terlebih begitu tahu ada dering panggilan. Mau lebih aman, simpan hp di tas. Kelar berkendara, baru dicek ada panggilan masuk apa tidak.

 

Atau kalau memang darurat, boleh-boleh aja ngantongin ponsel di celana atau jaket. “Satu-satunya cara yang direkomendasikan adalah berhenti di tempat aman dan baru lakukan percakapan,” yakin Anggono.

 

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 04:24 pm by royaje
Comment (1)  

Gigi Saat Macet di Hujan

Berkendara di hujan, enggak usah berpikir cepat sampai tujuan. Tapi, camkan dalam tempurung kepala yang penting selamat sampai tujuan. Tujuannya sama teknik mengendalikan motor waktu aspal jalanan direndam guyuran air dari langit.



Salah satu cara untuk bisa dengan mudah bin gampang mengkontrol kuda besi adalah paham sama karakter mesin. Terutama putaran mesin saat gas dibuka yang menghasilkan tenaga.
    
Selain basah, tentunya waktu hujan berjam-jam jalan macet. Mesin dipaksa melakukan stop n go. Buka gas, rem, buka gas lagi. “Kondisi seperti ini akan aman kalau teknik mengendara bagus,” ujar Anggono Iriawan, Safety Riding Instructur, PT Astra Honda Motor (AHM).
    
Posisi gigi yang ideal waktu jalanan stop n go ada di gigi 1. Gigi 1 terasa banget momen puntir alias torsi kalau gas dibuka mendadak. Motor akan menghentak. Tapi awas aspal yang basah bikin stabilitas berkurang. 
    
Tambahan lagi, rem ditekan karena motor nyelonong dari arah berlainan. Namanya juga macet, pastinya penunggang motor ogah ikut antre manis bareng roda empat. Selap-selip di antara mobil sudah jadi pemandangan biasa. Ada celah diokit, langsung sikat. Wus...wus...!  
    
Kalau enggak diantisipasi dengan teknik menekuk setang yang kurang baik, pengendara kemungkinan lepas kontrol. Plus pengereman mendadak dan ban enggak sempurna mencakar aspal.

“Mending tahu diri. Kalau teknik mengendaranya pas-pasan, ya pakai gigi tinggi aja,” pesan Anggono, instruktur AHM yang langganan menimba ilmu Safety Riding di Honda Motor Company, Jepang. Di sana diajarkan teknik berbagai motor, dari cc kecil sampai 1.000 cc. Termasuk menggunakan SE.

Seandainya masih menggunakan gigi 1, mainkan irama bukaan gas supaya tenaga yang dirasakan ke badan enggak ngagetin. Buka gas seperti diurut. Mengerem pun harus imbang antara rem depan dan belakang. Biar motor tetap stabil, ngerem pun jangan dikagetin.

Tentu yang perlu diingat lagi adalah tahu kalau perjalanan di saat hujan itu melelahkan. Ambil jalan aman aja. Bisa menggunakan gigi 2 supaya hentakan lembut. Tidak kejam seperti jika menggunakan gigi 1. Meski mesin sedikit teriak waktu gas dibuka. Tinggal pilih!


Posted at 03:48 pm by royaje
Comment (1)  

 
Feb 6, 2008
Rampok Tas Merengut Nyawa

Rabu (12/9) lalu jadi hari yang tidak bisa dilupakan Irwan Fatikawa. Eka Irawati (21), istri tercintanya meninggal dunia setelah terjatuh dari motor. Ketika itu Ira berusaha melawan pencopet yang ingin merampas tas yang dikepit di tangannya.

Saat itu Irwan hendak silaturahmi ke rumah orang tua Ira di Karawaci, Tangerang. Sampai di Jl. Pemuda, Tigaraksa, Tangerang. “Tanpa dinyana dari belakang dua orang mengendarai motor sport langsung menyerobot tas Ira. Karena tali tas kencang di pundak, Ira terjengkang hingga kepalanya menghantam aspal. Isi tas berantakan di jalan,” sedih pria yang tracker itu.

Saat terjengkang Ira masih dalam kondisi memegangi putra semata wayangnya, Raihan Juan Ramadhan (1). Begitu sang istri terjatuh, Irwan langsung dan segera pinggirkan motor.

“Perampok itu sepertinya hendak mengambil sesuatu. Mungkin tas istri yang isinya masih berceceran di jalan atau mungkin mau ambil motor. Saya langsung teriak. Untung ada motor lewat, perampok langsung ketakutan dan kabur,” kenang Irwan.

Setelah itu, Ira langsung dibawa ke rumah sakit Husada Insani. Dokter mendiagnosis, pembuluh darah Ira pecah sehingga tidak bisa diselamatkan.

“Memang jalan wilayah itu dikenal rawan pencopetan. “Sehari sesudah kejadian, seorang perawat juga diambil paksa tasnya saat berkendara malam. Buat yang biasa melintasi jalan itu terutama malam hari harus hati-hati,” pesan Irwan.

TIPS MENGHINDARI

Peristiwa dialami Irwan sekeluarga memang bukan yang terakhir. Untuk itu, pengendara mesti ekstra hati-hati. Sinyalemen makin maraknya kejahatan ini juga diungkapan Kombes Carlo Brix Tewu. “Penjahat makin berani dan pintar. Pengguna jalan harus selalu waspada,” pesan Direktur Reskrim Polda Metro Jaya.
    
Dicky Setiawan, pembalap yang sempat dijuluki Jambret ngasih saran. Jangan pernah duduk menyamping. Posisi ini berbahaya jika tas dijambret. “Keseimbangannya kurang. Tas ditarik badan mudah jatuh,” ulas Dicky yang juga manajer dan pemilik tim Suzuki Dick’s Jateng, Solo.

Sebaiknya pakai tas dimasukkan ke dalam jaket. Pilihan bahan tas juga penting. Supaya aman cari tas yang mudah sobek jika ditarik. Tentunya juga, tas jangan diisi barang berharga.

Terakhir saran dari MOTOR Plus yang langganan jadi pembicara dan instruktur safety riding. Jangan bawa barang banyak apalagi berharga saat berkendara malam. Terlebih jika mengetahui akan melintas daerah atau kawasan rawan. Paling aman dan nyaman ya pakai ekstra bagasi.

Kalau tidak terpaksa, baiknya tidak bonceng anak kecil di atas motor. Ini yang paling sering diabaikan pengendara.

 

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 01:14 pm by royaje
Comment (1)  

Masker Hindari ISP

Masa perubahan cuaca tidak menentu yang secara tak langsung juga dipicu global warming, berdampak buruk pada kesehatan bikers. Terutama pengendara yang bergelut dengan kemacetan lalu lintas. Mereka rawan dan rentan terkena beragam penyakit.



Asap, debu dan polusi udara kendaraan bermotor sudah bercampur, didukung cuaca tak menentu. Dalam sehari terjadi pagi panas menyengat, siang atau sore hujan turun, begitu sebaliknya. Kandungan zat paling berbahaya bersamaan dengan hujan memudahkan terhirup lewat lubang aliran pernapasan.

Jika diabaikan atau dianggap sepele tak heran dalam waktu dekat, efeknya dirasakan sendiri. Seperti muncul gejala batuk kering hingga rawan terkena penyakit infeksi saluran pernafasaan (ISP) yang kemungkinan besar bila didiamkan menuju level akut (ISPA).

Gejala batuk kering lebih mudah diketahui dan dapat segera diobati. Tapi pada infeksi saluran pernafasan, gejalanya kadang di luar dugaaan pasien. Gejala ISP paling mudah dideteksi yakni nafas kurang maksimal atau seperti kekurangan oksigen ketika pakai helm half face dan tanpa masker.

Tapi jika bagian bawah helm dan dagu ditutup telapak tangan, pernafasan sedikit lancar. Padahal pada fase itu sebenarnya saluran pernafaan sudah terinfeksi.

"Karena infeksi saluran pernafasan terjadi di dalam tubuh, wajar kalau suhu badan jadi tidak normal. Gejalanya mirip demam tinggi. Lalu demam berefek menyerang persendian seputar dada dan punggung (ngilu)," jelas dr. Deflin yang kerap menangani penyakit itu belakangan ini.

Agar tak menimpa brothers, dokter berpraktik di Klinik ESTI Jl. Bangka Raya, Jakarta Selatan ini menganjurkan pengendara dilengkapi standar keamanan helm full face, jaket dan masker. Paling penting diawali masker penutup mulut. Sebab fungsi masker selain penyaring partikel debu juga membuat suhu udara dihirup normal.

Tanpa masker, udara panas yang dihirup selama berkendara langsung masuk melalui hidung, tenggorokan, saluran pernafasan lalu ke paru-paru.

Apalagi udara jalanan bikin tenggorokan dan saluran pernapasan terasa kering. Deflin juga mewanti bikers segera minum air putih untuk menyegarkan tenggorokan. "Kalau dibiarkan lebih lama bisa lebih parah dan menjadi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," ungkapnya.

"Dan untuk menjaga kesehatan, pola makan sehat dan banyak minum air putih. Boleh juga ditambah vitamin kalau sehari-hari menempuh jarak jauh dengan motor," timpal dr. Khairul dari Grup Medik Meruya (GMM).

MANDI TEKAN MUNCULNYA BAKTERI

Keluhan lain yang diderita pengendara motor yakni kulit. Mulai kulit menghitam atau kusam karena terkena sinar matahari dan asap kendaraan, sampai muncul gejala bau badan (BB).

Kalau ini resepnya cuma satu, yaitu rajin bersihkan badan dengan sabun. Dengan begitu kulit lebih bersih, dan terhindar BB. Kalau perlu setelah mandi pakai pelembab kulit. Sebab hal ini minimal akan mengurangi efek terpaan matahari atau asap kendaraan.

Bau badan sendiri disebabkan karena bakteri jahat tumbuh subur di kulit. Terutama kulit yang lembab di seputar lekukan tubuh, seperti ketiak atau pangkal paha. Lalu untuk membersihkannya cukup dengan mandi pakai sabun dan mengeringkannya pakai handuk agar pertumbuhan bakteri di kulit terhambat.

"Pemakaian deodoran bisa mengurangi bau. Tapi kalau tidak diikuti mandi dan mengeringkan badan, malah bisa mempercepat pertumbuhan bakteri," tambah dr. Khairul yang murah senyum.

HINDARI IRITASI MATA

Kepadatan lalu lintas dapat menyebabkan mata peka terhadap polusi. Sala satu cotohnya mata gampang lelah, terkena sinar matahari, asap polusi kendaraan, asap rokok maupun semburan AC. Akibatnya mata gampang iritasi.

"Ultraviolet dan iritasi berulang mengakibatkan pterygium. Yaitu gangguan selaput di sekitar kornea mata. Tidak berbahaya sih, hanya mengganggu. Pengobatannya bisa dioperasi dengan prosedur sederhana," terang Dr. Doni V. Istiantoro, SpM dari Jakarta Eye Centre (JEC) Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Gangguan mata yang paling berbahaya jika ada partikel seperti kerikil masuk ke mata. "Saat bermotor, ada lemparan kerikil dengan power yang cukup keras ke mata, bisa menimbulkan kerusakan mata. Sebaiknya kalau bepergian dengan motor gunakan kacamata," paparnya.

JAGA KESEHATAN MATA

    • Gunakan kacamata saat berkendara.
    • Kedipkan mata untuk mengurangi beban konsentrasi dan mencegah mata kering.
    • Cukup tidur dan istirahat.
    • Jika memakai lensa kontak, pilih lensa yang kandungan airnya cukup.
    • Jangan mengucek langsung, gunakan kain halus atau tisu steril.

Hindari kontak langsung dengan AC, ultraviolet dan asap rokok.

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 01:04 pm by royaje
Make a comment  

Evaluasi Penyebab Kecelakaan

Saya sangat kaget mendengar kematian yang begitu besar dialami pengendara. Program keselamatan berkendara harus terus dilaksanakan.



Itu pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, 23 April 2007.

Presiden ketika itu langsung menginstruksikan pendidikan lalu lintas sejak dini dan sosialisasi yang berhubungan dengan lalu lintas baik secara hukum maupun etika.

Menurut Sena Indrapermana Soerono, Transport Development Specialist dalam workshop mengenai helm di Jakarta, 5 November lalu, permasalahan keselamatan di jalan akibat rendahnya disiplin lalu lintas, pendidikan lalu lintas, tingkat kelaikan armada. Juga rambu dan fasilitas jalan raya dan penegakan hukum lalu lintas.

Lebih jauh ia menyebutkan faktor penyebab kecelakaan di jalan. Terbesar merupakan akibat kesalahan pengendara yakni 90,3 persen. Lainnya akibat pejalan kaki, 3,5 persen. Faktor kendaraan 4,03 persen. Diikuti kondisi jalan sebanyak 2,58 persen.

Robert Klein, Direktur Global Safety Road Program dalam paparannya membagi persoalan penyebab kecelakaan pengendara. Pertama, motor tidak stabil. "Tidak seperti mobil yang stabil. Risiko ini sangat rentan bagi bikers," jelasnya.

Motor yang hanya punya roda dua juga didesain untuk dua penumpang. Di negera berkembang, seperti terlihat dalam arus mudik Lebaran beberapa waktu lalu, umumnya dan bahkan kebanyakan motor mengangkut lebih dari 2 orang.

Kurang memperhatikan kondisi rem dan ban. Dua komponen ini vital bagi keselamatan berkendara. Sebagian besar kecelakaan terjadi karena kondisi ban botak dan rem yang blong.

Ellen Tangkudung, Kepala Laboratorium Transportasi di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, lebih menyoroti di sisi kepedulian bikers terhadap keselamatan diri. "Walaupun secara persentase penggunaan helm sudah cukup baik, namun kalau diteliti lebih dalam kualitas helm masih sangat rendah. Helm digunakan bukan untuk melindungi dari kecelakaan tapi dari kejaran petugas kepolisian," jelasnya.

Persepsi pengendara juga mempengaruhi bagaimana seseorang berkendara. "Perilaku keselamatan berkendara didasarkan pada, risk perception yakni bagaimana persepsi besar kecilnya risiko yang dihadapi," jelas Ridwan D. Sjaaf, pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Berikutnya, menurut Ridwan, risk acceptance yakni sejauh mana seseorang dapat menerima risiko. "Ini yang mempengaruhi agresivitas seseorang pengendara jika persepsinya rendah terhadap kecelakaan," ungkapnya.

INDONESIA TERBANYAK

Data yang dirangkum Global Safety Road Program memang sangat mencengangkan. Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan pertama soal kematian berkendara (2003), 30.464 orang per tahun dan luka-luka 2.550.000 orang.

 Angka ini seiring dengan jumlah kendaraan dan peningkatan produksi motor di Indonesia yang booming sejak 2001. Itu sebabnya, kepeduliaan terhadap Aman Berkendara harus terus berlangsung. Terutama mendidik generasi berikutnya agar memiliki kesadaran lalu lintas yang jauh lebih tinggi dari generasi kini.

SAFETY RIDING YEAR JALAN TERUS

Di 2007 ini MOTOR Plus tasbihkan sebagai tahun Aman Berkendara. Ini sejalan dengan komitmen Em-Plus dalam upaya mengurangi bahkan meniadakan kecelakaan terutama fatal. Sudah banyak kegiatan dilakukan. Mulai dari konsistensi dalam menyajikan rubrikasi Aman Berkendara.
    
Tentunya lewat para pakar dan ahli safety riding yang membagi pengetahuan dan pemahaman mereka. Bahkan, kegiatan off print, seperti pelatihan langsung ke beberapa klub dan sekolah dan perguruan tinggi juga MOTOR Plus lakukan.
    
Nggak heran kalau dalam beberapa kesempatan, awak redaksi sering diminta menjadi pembicara dalam acara yang berkaitan langsung dengan safety riding. Bahkan, nggak sedikit komunitas pembaca, 'menodong' redaksi untuk mau jadi instruktur safety riding yang mereka gagas. 
    
Jelas bukan tanpa sebab. Selain paling dan lebih dulu care sama urusan safety riding, beberapa awak juga langganan ikut kursus dan seminar terkait. Tentu bakal percuma kalau dalam kesehariannya tidak langsung berhubungan sama motor. Jadi, Em-Plus memang bukan cuma piawai di teori, tapi juga oke banget di urusan praktik.
    
Bahkan kalau tidak ada kendala, di 2008 nanti MOTOR Plus bakal mengirim perwakilan untuk menimba ilmu safety riding langsung di luar negeri. Seperti Jepang, atau mungkin Inggris. Tujuannya tentu untuk mendapatkan pengalaman lebih luas juga lisensi internasional sebagai instruktur.
    
Intinya, tahun ini merupakan awal. Tutup 2007 bukan berarti program ini hilang dengan sendirinya. Tahun berikutnya pasti akan lebih terprogram dan terarah. Jadi, tunggu berbagai gebrakan di 2008 nanti.
    
Bayangan MOTOR Plus ke depannya, Aman Berkendara bisa menjadi disiplin ilmu tersendiri yang dipelajari secara umum. Baik di tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Atas. Bahkan di tingkat kuliah.
    
Harapannya, Aman Berkendara ini menjadi ilmu terapan yang bisa diaplikasi langsung. Manfaatnya akan dirasakan langsung. Yakni, meningkatnya disiplin berkendara, pemahaman dan pengetahuan berkendara jauh lebih meningkat.

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 12:39 pm by royaje
Comments (2)  

Hamil Boleh Naik Motor?

Aktivitas bermotor dilakukan wanita hamil. Pemandangan boncenger hamil bahkan bawa motor sendiri masih kerap terlihat. Sebetulnya, boleh nggak sih wanita hamil naik motor? Berkendara seperti apa yang masih bisa ditolerir bagi perempuan mengandung?



Mari kita tanya pakarnya, dr. Irfan Rahmatullah, Sp.OG, ginekolog dari Banjarnegara. Doi bilang ibu hamil memiliki kondisi rawan pada bulan tertentu. Yaitu semester pertama dan ketiga.



Semester pertama yakni usia kandungan 1 sampai 3 bulan. "Masa ini disebut konsepsi di mana embrio baru terbentuk dengan bertemunya sel telur dan sperma. Jika terkena guncangan berlebih akan menimbulkan abortus atau keguguran," jelas dokter praktik di Jl. Jendral Soedirman, No. 11, Banjarnegara, Jawa Tengah ini.  

Itu karena guncangan berlebih bisa memutuskan plasenta. Plasenta merupakan usus yang menghubungkan bakal bayi dan si ibu. Bayi mendapatkan pasokan makanan si ibu lewat plasenta ini. Sehingga ketika terjadi guncangan keras bisa berakibat fatal bagi si jabang bayi.

Sedangkan semester ketiga yakni usia kandungan 7 hingga 9 bulan. Janin sudah berbentuk lengkap. Jabang bayi telah memenuhi rahim. Pelindung rahim atau plasenta menipis. "Jika terjadi guncangan berlebih bakal menimbulkan bayi lahir prematur," ulasnya.

Dokter Irfan mengatakan wanita hamil masih bisa naik motor. Asal dijaga intensitasnya. Jangan keseringan. "Pilih jalan relatif rata untuk mengurangi guncangan," jelasnya.

Lain lagi kata dr. Hasnah Siregar, Sp.OG dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita, Jakarta. Katanya, berkendara motor butuh konsentrasi dan kesabaran tinggi. Apalagi kalau lihat kondisi lalu lintas di Jakarta. Untuk wanita hamil agak berisiko mengganggu pertumbuhan janin dan si ibu.

Ia malah lebih menyarankan wanita hamil, baik hamil tua maupun hamil muda sebaiknya tidak usah naik motor. Karena guncangan mengendarai motor dapat mengakibatkan bayi dalam kandungan terganggu. "Mending naik angkot aja," solusi dokter Hasnah.

Dan ingat, saat bepergian sebaiknya jangan sendirian. Bisa mengajak teman atau saudara. Kondisi badan ibu harus benar sehat, tidak merasakan sakit, nyeri, mual, atau kontraksi berlebihan pada otot perut dan panggul. Sebab wanita hamil kondisinya cenderung lebih lemah.

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 11:57 am by royaje
Comments (7)  

Musim Sulit Diprediksi

Apa boleh buat, sekarang ini musim sulit diprediksi. Sebelum penutup tahun, beberapa awak redaksi menyebar di beberapa provinsi di Indonesia. Di Bali misalnya, di akhir tahun hujan lebat terus mengguyur Pulau Dewata itu. Malah, Pantai Kuta sempat ditutup karena badai dan ombak naik. Buat bikers, kondisi ini benar-benar layak diwaspadai


    

Hujan tiba-tiba mengguyur, perlu kewaspadaan handling. Daya gigit ban dan aspal berkurang karena jalan licin. Di sini rider harus mewaspadai beberapa bagian agar cengkraman roda terhadap aspal tetap terjaga. Berikut beberapa poin penting yang wajib diwaspadai terkait musim hujan.

ANGIN KENCANG

Hujan disertai angin kencang tidak saja bikin handling berkendara sulit. "Tapi juga berbahaya jika ada pohon atau baliho yang rubuh," jelas Anggono Iriawan, Chief Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor.
    
Untuk itu, ia mewanti penggunaan perlengkapan safety perlu diperhatikan. "Masih banyak pakai jas hujan ponco. Ketika angin kencang jasnya pada terbang ini membahayahan. Begitu juga penggunaan beberapa peranti seperti windshield. Tabokan angin ke peranti ini bikin motor mudah oleng," tambahnya.

JAGA BATAS KECEPATAN

Saat turing redaksi ke Anyer beberapa waktu lalu, jadi pengalaman MOTOR Plus. Karena perjalanan kala itu terasa lengkap. Cuaca panas tiba-tiba hujan. Jika mendapati aspal basah apalagi bergelombang, rider dianjurkan tak melewati batas kecepatan 80 km/jam.

Khusus skubek berdiameter roda lebih kecil, handling dan kecepatan harus lebih diwaspadai. Di beberapa bagian, jalan beton mememerlukan kehati-hatian ekstra karena sangat licin.

Tips paling ringan, kurangi tekanan ban sekitar 4 psi depan-belakang dari normal, 24 psi. Apapun jenis bannya, pastikan alur ban tak kurang dari 2 mm. Kurang dari itu air tak mampu dipompa keluar hingga ban ogah lengket jalan hingga akhirnya jadi gampang terpeleset.

Tak cuma itu, rider wajib lebih mengutamakan engine brake ketimbang rem. Pindahkan gigi tinggi ke rendah secara perlahan dengan gas halus untuk menghindari roda mengunci.

Sebaliknya saat akselerasi, ikutin tips peturing, urut gas lembut agar ban belakang nggak sliding. Sekadar bagi pengalaman, saat macet dan jalan basah berlumpur, sebaiknya pilihlah jalan bekas lintasan truk atau mobil. Logikanya, areal ini lebih minim genangan dan lumpur hingga roda motor bisa mencengkram lebih baik.

TEKNIK BERKENDARA

Bedakan teknik pengereman jalan basah dan kering.Untuk kering, dominan roda depan. Sedang basah bagi secara merata depan-belakang dengan teknik set up and squeeze. Maksudnya tekan dan lepas rem secara bertahap. Istilahnya dikedet.

Demi kesempuraan handling saat hujan, bikers harus menguasai riding position yang benar. Joel Deksa Mastana, pakar safety riding yang juga instruktur riding Mabes Polri sangat concern ikhwal riding postion (RP) ini.

"Inilah yang paling dasar. Sebelum paham cara ngerem, manuver dan lainnya, ia perlu paham betul RPyang benar," bukanya.

Posisi riding ideal mengharuskan rider duduk mendekati tegak, pegangan kuat tapi fleksibel dengan siku menekuk. "Ini berhubungan langsung dengan tingkat refleks plus ketahanannya dalam mengemudikan motor," jelas Bro  yang kerap turing memakai motor besar ini.

ANTISIPASI MOTOR

Selain rider, langkah preventif juga dilakoni di motor dan perlengkapan mengendara. Misalnya, soal kelistrikan. Hujan membuat soket-soket basah kuyup.  Bukan nggak mungkin, sobat tiba-tiba kesetrum, kaget, hilang kendali. Walah berabe!

Apalagi motor mejus alias mogok. Agar tak terjadi, jangan malas memeriksa kabel bodi. Siapkan sealent yang biasa merekatkan congor knalpot dengan lubang exhaust. Harganya sekitar goceng sampai ceban.

Untuk motor jenis sport, tangki di back-bone dicopot dulu. Yang wajib dilindungi sealantsemua kabel dan soket yang berarus positif semisal soket besar membagi arus listrik dari sepul untuk pengapian dan pengisian.

Jangan lupa soket CDI, regulator dan relai lampu sein. Khusus CDI pastikan tutup kabel penyambung arus dari CDI ke koil terhindar dari air. Sekalian sambungan kabel busi dan kepala busi.

Perlu juga tuh nyiapken cairan pembantu seperti WD 40. Kalau tutup busi basah, tingal semprotkan cairan itu. Oh ya, wilayah depan ada motor starter listrik. Peranti ini anti air. Maksudnya anti sama air, kalau sampai keguyur, korslet langsung tiwas tenan. Juga penutup sekring aki dan relai starter listrik.

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 11:29 am by royaje
Make a comment  

Singkirkan Potensi Bahaya!

Peranti pengendara terbukti memberi andil dalam kecelakaan. Barang bawaan, pakaian, jas hujan dan lainnya ikut memberi andil. Makanya, jangan anggap sepele. Nyawa bisa melayang karena hal kecil yang kurang diperhitungkan secara safety.

JAS HUJAN BATMAN
 
 
as hujan model Batman (ponco-red) sudah berkali-kali dibahas dan memang tidak direkomendasi. Nyatanya, masih ada yang menggunakan model itu. "Padahal, selain mengganggu aerodinamis saat diterpa hujan dan angin, jas hujan seperti itu rentan nyangkut di rantai, ban dan lainnya," terang Dyan Dilato, ahli safety riding lulusan Lembaga Pendidikan Stay Upright, Australia.
    
Korban sudah banyak akibat jas hujan Batman. Bahkan, sampai fatal dan meninggal dunia.   Menurut Dyan lagi, prinsip safety riding menghindari gangguan saat berkendara termasuk dalam bentuk sabetan kain ponco yang berkibar macam bendera. "Usahakan jas hujan model two pieces, lebih aman dan tidak mengganggu berkendara," tegasnya.
 
TAS SELEMPANG
 
 
Banyak pengendara dengan santai membawa tas saat geber motor. Entah tas selempang, ransel atau jenis tas gaul lain. "Itu tidak dibenarkan. Semua barang termasuk tas lebih tepat masuk bagasi. Selain mengganggu, beban tas juga berpengaruh pada keseimbangan pengendara. Akibatnya saat manuver mendadak tidak stabil," terang Dyan yang juga pembalap Supersports 600 cc.
    
Bahaya dari tas bukan hanya bagi pengendara itu sendiri. Tapi juga bikers lain. Contoh, seperti pengalaman Riza Boris, 3 tahun silam. Seperti diutarakannya di milis HTML. Doi terjerembab saat seorang bikers lain yang tas kerjanya nyangkut di spion Riza. Tuh, terbukti bukan hanya membahayakan diri sendiri, kan?
 
CELANA DAN KAIN
 
Secara safety, bikers musti memiliki kemudahaan manuver. Makanya, berbagai jenis celana atau kain yang dipakai harusnya memenuhi aspek itu. "Kalau celana atau kain yang mengganggu manuver tentu tidak direkomendasi," terang Dyan.
    
Misal celana panjang yang lingkar bawahnya terlalu besar. Model celana begitu rentan nyangkut di footstep atau di kick-starter. Enggak lucu kalau mau berhenti tiba-tiba gedubrak, karena kaki nyangkut.
 
SEPATU HAK TINGGI
 
 
Ini juga bukan pilihan benar. Mending ngalahin bawa sepatu dua kalau mau ngantor. "Daripada mengorbankan kenyamanan dan keamanan berkendara. Repot sedikit tidak masalah," terang Dyan.
 
Sumber : Motor Plus Online


Posted at 10:26 am by royaje
Make a comment  

Silakan Melibas Lubang

Enggak ada pilihan lain kalau mendadak ada lubang, monggo dilibas aja. Ini pilihan jelek buat motor. Minimal mungkin pelek bisa speleng sewaktu menghajar lubang. Mau pilih mana, motor selamat, tapi badan cedera atau ada bagian tunggangan yang cacat, tapi badan selamat? 



Itu dilakukan jika cara lain seperti mengelak dengan zig-zag berisiko kecelakaan tinggi. Terutama di jalan yang padat kendaraan. Metode zig-zag yang nggak 'mulus' bisa dihajar kendaraan dari belakang. Fatal akibatnya lantaran gerakan motor pindah mendadak.

"Meski pilihan buruk melibas lubang, secepat mungkin ada gerakan respon pengendara untuk mengurangi risiko kecelakaan," ujar Anggono Iriawan, Safety Riding Instructur PT Astra Honda Motor.

Gerakan mendadak karena ada area yang hancur di jalanan, ingat aja seperti pembalap grasstrack. Bukan berarti sampeyan berubah langsung jadi pembalap cakar tanah. "Badan mesti diangkat sedikit ke belakang. Terus kuatkan posisi lengan," kata Anggono yang berkantor di kawasan Tipar Cakung, Jakarta Utara.
Posisi badan yang sudah diangkat secepat mungkin mengendurkan gas dan sebisa mungkin sedikit menggunakan rem depan. "Jangan pas masuk lubang motor direm. Motor bisa nungging. Soalnya bagian depan sudah lebih dalam dibanding bagian belakang," kata Anggono.

Mesti diingat bro, posisi tangan yang diperkuat juga enggak boleh kaku. Gerakan tangan kudu mengikuti irama jalan yang berlubang. Sembari badan menjaga stabilitas motor.

LUBANG VERSUS PELEK

Waspada sama diameter pelek yang digunakan. Melewati lubang lebih besar akan fatal kalau antisipasinya salah. Seperti tulisan di atas yang salah saat mengerem pas di lubang.
    
Makanya, sebaiknya jangan asal libas. Sadar ada lubang dan masih bisa bereaksi. Ada waktu untuk memutuskan. Nantinya badan dan motor bisa selamat. Tentunya lubang yang sudah terlihat dari jarak tertentu. "Hindari sambil mengurangi kecepatan dan ngerem. Tentunya sambil lihat kondisi," jelas Anggono Iriawan. 

BIJI YANG GOYANG

Tentunya biji mata yang bergerak membaca kondisi jalan. Apalagi, kecepatan tinggi ditambah lubang yang makin banyak betebaran setelah hujan mengguyur. Fokus biji mata akan bergerak cepat ke lubang serta melihat kondisi di sisi kanan-kiri motor. "Arah pandangan ke aspal diagonal. Jadi bukan kepala yang bergerak," beber Rizki Mario, Instruktur Safety Riding PT Yamaha Motor Kencana Indonesia, Jakarta.
    
Makanya, posisi badan dan kepala tegak. Horison alias pandangan jadi lebih jauh. Sehingga bisa memantau kondisi jalan dengan jangkauan lebih luas. Tentunya posisi mesti serileks mungkin agar enggak gampang lelah. Sehingga lubang bisa dideteksi lebih cepat dan antisipasi bisa dilakukan tanpa mendadak.

KELAS JALAN

Bicara jalan, perlu diketahui kalau jalan juga memiliki kelas. Itu ditetapkan Pemerintah dalam pasal 11 bab IV PP No. 43/1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

Jalan kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton.

Jalan kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar  tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton.

Jalan kelas IIIA, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

Jalan kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

Jalan kelas III C, yaitu jalan lokal yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 mm, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 10:13 am by royaje
Comment (1)  

Potensi Kecelakaan Ancaman Dekat Rumah

Awal November 2007 lalu,  2 orang tewas menggunakan Yamaha RX-King bernopol B 5427 GN akibat ditabrak Suzuki Katana. Kejadiannya di Jl. Boulevard, depan Perumahan Harapan Indah, Bekasi Utara, Selasa. Di tahun yang sama bulan Oktober kecelakaan terjadi di depan Perumahan Nongsa Asri, Batam Nongsa, Batam.



Peristiwa di atas punya kemiripan. Kecelakaan terjadi di depan perumahan tempat korban tinggal. Pengendara di kawasan perumahan memang berisiko besar mengalami kecelakaan. "Meski jarak dekat, 90 persen lebih warga perumahaan yang naik motor enggak memenuhi syarat keselamatan," ujar Anggono Iriawan, Safety Riding Instructur dari PT Astra Honda Motor (AHM).

Hasil pengamatan MOTOR Plus di dua perumahan yang ada di Tangerang juga sama dengan apa yang dikatakan Anggono. Dari 10 bikers hanya 2 atau 3 menggunakan peranti keselamatan. Sekitar 80 persennya minimal enggak pakai helm. Malah, ada bahkan banyak bocah yang cuma pakai celana pendek SMP dan sandal asyik keliling perumahan tanpa helm dan jaket. Nggak Aman Berkendara banget!

"Paling bahaya lagi perumahan yang lokasi pintu keluar-masuk sudah langsung bertemu jalan raya utama. Artinya, lebih banyak lagi kendaraan dengan kecepatan tinggi melintas," ungkap Anggono yang berkantor di kawasan Tipar Cakung, Jakarta Utara.

Jadi, memang tak bisa diprediksi kecelakaan kapan dan di mana akan terjadi. Hitungan detik jika enggak bisa menghindar pasti badan celaka. Jalan kaki aja bisa ciloko. Minimal kecelakaan tunggal yang disebabkan kondisi lingkungan. Seperti kaki nendang batu, terpeselet, atau kecemplung got atau parit. Padahal, jalan kaki itu hitungannya cuma 3-4 km/jam.

Bayangkan kalau naik motor! Kecepatan rendah keliling kompleks perumahan paling 10-30 km/jam. Tanpa helm, jaket, dan pakai celana pendek. Tiba-tiba ngerem mendadak karena ada kucing lewat. Atau pas mau nikung ada aspal berpasir atau tanah becek tidak terlihat. Pastinya risiko ngepot dan situasi tidak terkendali bisa terjadi.

Itu baru penyebab kondisi lingkungan. Ada lagi penyebab dari kendaraan lain yang jelas jauh lebih berbahaya. Seperti tabrakan antar dua kendaraan. Motor dengan motor atau roda dua sama roda empat atau bahkan lebih. "Risiko paling bahaya kepala terbentur. Kematian di depan mata," tutup istruktur AHM yang punya nick name AIR itu.

Karenanya, jangan anggap enteng berkendara walau cuma jarak dekat. Minimal tetap gunakan peranti safety agar kejadian fatal bisa dihindari!

Sumber : Motor Plus Online



Posted at 10:08 am by royaje
Comments (3)  

Next Page