|
|
 |
Zaman susah begini, barang yang dibanderol murah pasti laris diserbu. Ya, macam ban tanpa merek yang lagi marak beredar di kios ban seputaran Joglo, Jakarta Barat. Harga jelas lebih murah 20 sampai 50 persen ketimbang harga normal (gbr. 1). Bikin ngiler, kan!

"Paling laris buat motor bebek, ukuran 2,50-17 dan 2,75-17. Harga mulai Rp 60 ribu hingga Rp 75 ribu," jelas Nana Supriatna, penjaga kios ban Bodass dari bilangan Jl. Joglo Raya, belokan menara Indosiar, Jakarta Barat. Harga segitu boleh ditawar alias masih nego. Lalu, ongkos pasang sudah termasuk harga ban alias gratis. Karet bundar tanpa merek ini dijamin bukan vulkanisir. Jadi, ini memang tawaran yang sangat menarik! Soal stok atau pilihan ragam ban yang ada lumayan komplet (gbr. 2). Dari ban trail 3,00X18 (Rp 85 ribu), ban drag 60/80-17 (Rp 60 ribu), ban standar motor laki atau sport 3,50X18 (Rp 100 ribu), ban skuter 3,50X10 (Rp 70 ribu) sampai ban tapak lebar 120/80-17 (Rp 200 ribu).

Sebetulnya ini ban reject. Reject? Berarti ada yang rusak dong? "Kalau dari tapak ban sih mulus. Belum ada tuh yang balik ke sini karena sobek. Paling di dekat kawat ban ada kelebihan karet, ini nggakberpengaruh kok," promosi Nana yang mengaku kalau semua ban itu diborong kakaknya dari pemasok.
Nana yang from Ciamis itu juga mengaku tidak tahu soal merek asli ban yang dijualnya. Karena menurutnya, semua merek dan tipe ban sudah dihapus pakai gerinda (gbr. 3). Yang tinggal cuma ukuran ban. Misterius memang!

Tapi pastinya, tetap ada kekurangan pada ban tanpa merek ini. Terlebih untuk ban spek tubeless yang kerap menimbulkan benjolan pada permukaan saat dipasang ke pelek minus ban dalam. Berarati, kudu tetap pakai inner tube alias ban dalam!
PABRIK BAN MENYANGKAL
Sebelum dijual, ban harus lewat pemeriksaan mutu untuk menentukan tingkatan. Grade A untuk OEM (Original Equipment Manufacturer) dan after market. Grade B dan C ada sedikit cacat, tapi layak dipakai. Paling rendah, grade D reject. Biasanya karena rusak di kawat atau tapak," kata Joenaidy Gozali, Specialist Staf Tech, PT Gajah Tunggal Tbk., produsen ban IRC.
Ban IRC yang dijual hanya grade A. Untuk grade B dan C, tidak beredar di Tanah Air. Melainkan diekspor ke India. "Ban reject dihancurkan lewat cara memotong kawat ban biar tidak bisa dipakai lagi," yakin Doddy yang ngantor di Wisma Hayam Wuruk, Jl. Hayam Wuruk, No. 8, Jakarta Barat.
Dody memastikan bahwa mestinya ban reject itu tidak boleh beredar. Apalagi sampai lolos ke pedagang dan dijual pula. Doi berjanji bakal membantu mencari tahu asal ban tanpa merek itu.
Sumber: Motor Plus Online
Posted at 06:09 pm by royaje
Permalink
Ada pendapat berkembang kalau motor terlibat kecelakaan dengan mobil, yang salah pasti mobil. Begitu juga ketika motor accident dengan orang. Si orang pasti dianggap tidak salah. Benar nggak sih pendapat itu? Di beberapa kejadian membenarkan pendapat itu. Berikut ini langkah yang bisa dilakukan sebelum dan ketika kejadian besar lawan kecil.

PREDIKSI KEADAAN
Joel Deksa Mastana, instruktur safety training menambahkan, bagi bikers langkah antisipasi adalah yang terbaik. "Usahakan jangan masuk ke situasi itu. Mesti pandai memprediksi situasi. Apa ada orang meleng ketika hendak nyebrang. Jadi sudah siap-siap!," jelas pria yang bermarkas di Bintaro, Jakarta Selatan ini.
TIDAK ADA ATURAN
"Tidak ada aturan yang menyebutkan roda empat dengan roda dua selalu benar roda dua. Begitu juga saat motor terlibat kecelakaan dengan orang. Si motor selalu salah," pasti Komisaris Polisi (Kompol) Taslim Ch. S.Ik, Kasatlantas Polwiltabes Bandar Lampung
TETAP TENANG
Ini kunci. Menurut Joel lagi, bikers jangan kabur. Kalau memang benar, tetap tenang. Pinggirkan motor. Kalau korban masih bisa berjalan, bantu ke pinggir. Paling repot kalau massa yang tidak tahu apa-apa ikut campur.
"Kalau kita tidak salah, biasanya di sekitar kejadian ada yang bisa jadi saksi. Nah, saksi ini bisa menjelaskan kronologis kejadian. Syukur kalau si korban tidak apa-apa, dan bisa selesai saat itu juga," ungkap Joel.
LAPOR POLISI
Kalau dari omong-omongan dengan pihak korban tidak selesai. Mesti dicari jalur lain. "Lapor ke polisi. Ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan," tambah Kompol Taslim lagi.
OLAH TKP
Bukan mencari siapa salah, siapa benar. Pihak kepolisian punya cara tersendiri untuk menilai kasus kecelakaan yang terjadi. "Kami punya metoda mengolah data. Dari TKP akan diolah dan dianalisa peristiwa itu. Hasilnya bisa mendudukkan persoalan secara proporsional," urai Kompol Taslim.
Sumber: Motor Plus Online
Posted at 06:09 pm by royaje
Permalink
Serba-Serbi Melintas Jalan Rusak
Ayo tolong tunjukkan jalan mana yang nggak lepas dari kerusakan? Paling-paling yang enggak ancur jalan landas pacu pesawat atau jalan protokol. Dari situs Dinas Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan, sebanyak total ribuan km jalan hancur dari 15 provinsi yang ada di Indonesia. Ini sudah termasuk jalanan berlubang segede baskom. Nyawa bisa jadi taruhan.

Nah, MOTOR Plus kasih beberapa pedoman. Minimal tunggangan jadi tidak cepat bermasalah.
AWAS NGINCAR KAKI
Pastinya kaki tunggangan yang lebih dulu jadi incaran jalan keriting atau malah kribo. Semakin sering jalan rusak dilewati, makin cepat kaki-kaki dapat masalah. "Soalnya ini bagian yang langsung berbenturan dengan aspal," bilang Freddyanto Basuki, Manager Technical Service, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI). . "Terutama bearing. Ini bagian yang menahan beban gerakan memutar," timpal Haryadi Wijaya dari Technical Support Division PT Astra Honda Motor (AHM).
Urut satu per satu. Ban paling jelas akan lebih dulu cepat habis. Lantaran, si karet bundar lebih dulu menerima gesekan ke aspal. Usianya akan lebih cepat dipangkas sama jalan rusak.
Terus, pelek akan cepat speleng alias enggak senter. Perputarannya enggak melingkar. Risiko speleng akan lebih cepat di pelek palang dibanding jari-jari. Lantaran, daya redam atau kelenturan casting wheel (CW) enggak sebaik jari-jari.
Baru deh kemudian merembet ke bearing teromol depan-belakang. Ini seperti kata Haryadi. Bearing pasti menahan benturan dari as-roda. Terus-terusan dibenturkan laher bisa oblak. Usianya bisa lebih cepat ganti.

Suspensi juga bakal diincar masalah. Sokbreker depan paling utama. Lantaran, beban saat pertama menerima guncangan permukaan aspal langsung di sok depan. Paling berisiko per sok cepat lemah. Lantaran, diajak bekerja diluar standar.
Termasuk juga gir depan-belakang dan rantai. Mesin berputar dan menerima guncangan lebih berat. Hentakan enggak bisa dihindari. Gesekan antara mata gir dan rantai pun berat.
MODIF NGGAK MASALAH
Sering lalui jalan rusak atau jalur berpunduk, memang punya risiko memperpendek umur beberapa komponen. Terutama di sektor kaki-kaki, yang memungkinkan berlanjut ke bagian lain. Dan kalau sudah begini, mesti siapkan dana tambahan. Pasti nggak mau kan?

Nah, agar kaki-kaki dan komponen lain bisa bertahan lama, nih ada solusinya. "Misal menyetel ulang sokbreker lebih lembut, seting tekanan angin ban, pakai laher roda berkwalitas bagus atau sering menyetel jari-jari," jelas Ign. Ketut Hargunanto mekanik P2M Hardex, Bali.
Namun sobat tidak perlu khawatir. Menurut Edwin Putut mekanik JD Motor di Pamulang Raya, Tangerang-Banten, dengan komponen yang disetingan standar pabrik sejatinya masih mumpuni. "Kan pabrikan sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi di iklim Indonesia. Tapi tetap ada batasnya. Kalau dalam lubang atau tinggi gundukan keterlaluan, baiknya sih disetel," lanjutnya.
Contoh, biar tendangan balik (rebound) sok tidak keras saat melewati lubang, baiknya ganti oli sok yang lebih halus. Misal pakai oli buat kompetisi atau pakai oli kopling otomatis buat mobil. Hal ini dimaksudkan agar sirkulasi oli di pipa kecil di dalam tabung bergerak lebih cepat. Tapi konsekwensinya, sok setelan lembut kurang sip saat manuver di kecepatan tinggi.
Kalau setingan sok sudah pas, "Selanjutnya setel tekanan angin sekitar 28~30 psi agar tidak terlalu keras juga tidak begitu kempis. Sebab tekanan ban yang tidak pas akan mempengaruhi kerja sok, jari-jari, pelek dan laher roda," wanti Ketut. Makannya jangan lupa selalu cek rangkaian komponen satu ini.
MESIN, PERBANDINGAN GIR DAN HANDLING
Kalau memang tiap hari berhubungan sama jalan kribo, mesin motor wajib disesuaikan. Kalau merawat mesin supaya tetap fit memang sudah keharusan. Itu karena pemakaian motor di jalan jelek bikin kerja mesin nggak stabil. Mesin kadang harus pelan lantas berakselerasi lagi. Otomatis Rpm melonjak-lonjak. Apalagi kecepatan rendah bikin pendinginan angin kurang.

Mesin jadi cepat panas, bisa overheat, blok melenting dan klep bengkok. Untuk itu, rider harus berkorban membeli oli yang berkualitas agar kebugaran mesin tetap terjaga.
Soal jalan rusak juga berkaitan dengan setingan karburator. Mesin langsam sangat membantu menundukan jalan kribo. Penyemplak tak perlu takut mesin mati dengan cara memainkan gas. Motor tak perlu harus menyalak hingga tenang menaklukan jalan.
Coba kalau karbu nggak fit…, selain jalan endut-endutan, juga harus terus memainkan gas di rpm tinggi. Tindakan ini jelas bikin mesin cepat rusak.
Jika semua sudah oakley tinggal soal handling motor. Walau jalan kribo, kehalusan dan insting tetap dipakai. Selain pintar cari jalan yang 'lumayan', pengendara juga jangan banyak mainkan kopling. Kadang secara tidak sadar, kopling dipencet setengah (untuk motor kopling manual) apalagi tuas rem depan-belakang selalu kepencet. Ini jelas memperberat kerja mesin, membuat kampas rem dan kopling cepat habis. Kuncinya tetap tenang, nrimo dan nggak memaksakan diri.

Terakhir soal pilihan perbandingan gir. Di jalanan kita menganut tiga pilihan. Tetap membiarkan paduan gir standar pabrikan, lebih enteng tapi top-speed kurang dan terakhir berat dan mengejar kecepatan maksimal. Untuk jalan kribo, pilihan kedua paling tepat. Pengendara memerlukan akselerasi enteng tanpa harus mengejar top-speed?
Rumus ngentengin kan gampang. Pokoknya hasil bagi antara jumlah mata gir belakang-depan lebih kecil dari aslinya. Syaratnya, hasil bagi tadi jangan lebih-kurang dari 0,1 dan naik-turun tidak lebih dari 1 mata.
Ambil contoh Astrea-Supra (standar depan 15/Belakang 40). Kalau dibagi 40/15 2.667. Agar hasilnya lebih kecil (akselerasi enteng) perlu lihat tabel dengan hasil bagi lebih kecil namun tetap di kisaran 0,1.
|
|
Gir Depan |
|
Gir Belakang |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
|
38 |
2,923 |
2,714 |
2,533 |
2,375 |
2,235 |
|
39 |
3,000 |
2,786 |
2,600 |
2,438 |
2,294 |
|
40 |
3,077 |
2,857 |
2,667 |
2,500 |
2,353 |
|
41 |
3,154 |
2,929 |
2,733 |
2,563 |
2,412 |
|
42 |
3,231 |
3,000 |
2,800 |
2,625 |
2,471 |
Sumber: Motor Plus Online
Posted at 06:09 pm by royaje
Permalink
Gang alias jalan tikus memang jadi santapan bikers. Bisa potong kompas, menghidari macet dan cepat sampai tujuan. Tapi riding ke areal itu bukan tanpa risiko, lho.

Medannya nggak bisa diprediksi. Masalahnya bersinggungan langsung dengan keseharian masyarakat yang mudah tersulut. Seperti kasus yang menimpa Sunarto. Pengendara Yamaha RX-King ini dibacok hingga tewas di Pademangan, Jakarta Utara, Sabtu (1/4) malam. Penyebabnya, suara knalpot motornya dianggap mengganggu pendengaran.
Berikut etika berkendara di jalan sempit!
'MUSUH' UTAMA: ANAK-ANAK DAN PEMUDA
Ingat lagu berjudul Gang Kelinci? Itulah gambaran ramainya anak-anak di pemukiman padat. Mereka belum bisa antisipasi bahaya, dan manuvernya tak bisa diprediksikan. Untuk itu, bikers mesti ekstra waspada.
"Disarankan matikan mesin atau lebih baik turun dari motor. Itu menghindari risiko menabrak dan membuat warga marah besar," jelas Anggono Iriawan, Chief Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor.
Tak cuma anak-anak, banyaknya tongkrongan anak muda juga memicu masalah jika tersenggol! Di salah satu kampung di Bandung, tertulis papan gede di gang: "Hati-Hati, Banyak Anak Muda." Hiii serem!
SENYUM DONG
Ini penting banget! Di gang sempit, helm full-face disarankan dibuka. Kontak mata dan ekspresi wajah pengendara sangat menentukan. Tetap senyum dan berkomunikasi jadi andalan. Mereka akan nyaman jika rider bilang permisi sambil senyum. Kalau pakai helm dan lewat begitu saja, warga bisa mangkel dan potensi menyulut masalah.
TERGANTUNG DAERAH
Di Bandung, Jakarta dan beberapa daerah lain di Jawa Barat-Banten, kebanyakan masyarakat lebih fleksibel soal etika pengendara motor masuk gang. Masyarakat nggak peduli apa kita turun atau matikan mesin. Beda daerah, di Surabaya, Jawa Timur dan beberapa wilayah di Jogja, mesin motor mesti mati. Itu jelas ada papan pengumuman pas di gang masuk.
PERHATIKAN KONDISI MOTOR
Introspeksi diri dan motor sangat penting. Motor gede dan yang ogah langsam hindari masuk gang sempit. Memaksa masuk, kemungkinan menyenggol bakal besar. Motor nggak langsam membuat pengendara terus memainkan gas. Suara mesin berisik. Jelas menganggu kenyamanan PS alias pemuda setempat.
Sumber: Motor Plus Online
Posted at 06:09 pm by royaje
Permalink
Perilaku konyol kadang ditunjukkan bikers saat berhenti di perempatan lampu merah. Yang jelas bukan semata menyebalkan pengguna jalan lain. Tapi juga membahayakan. Lihat apa aja sih prilaku buruk yang memang tidak perlu ditiru. Wuuuu...

MEMOTONG JALUR
Tabrakan dari arah samping bisa dihindari jika pengendara tidak memotong jalur pengguna jalan lain. Maklum, motor mudah terobos sana-sini. Jadi, asal ada ruang bisa ngambil jalur lain. "Risiko seperti ini harus dihindari. Karenanya jangan ambil jalur orang lain," jelas Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.
'KORUPSI' LAJUR KIRI
Risiko disenggol dari belakang bisa terjadi karena lajur kiri dipakai untuk berhenti. Korupsi jalur yang sebenarnya untuk satu motor diisi sampai tiga motor. Akibatnya, pengendara di belakang jadi tidak bisa jalan. "Melanggar garis batas sangat berbahaya buat pengendara. Posisi ini bisa jadi rebutan antara sesama pengendara. Parahnya, kalau disenggol dari belakang," jelas Hamisuseno, dari klub Hornet (Honda on Internet)
TIDAK SABAR
Sering melihat, pengendara yang tidak sabar menunggu lampu ganti warna dari merah ke hijau. Tancap gas! Sebaiknya, pengendara bersikap aman. Waktu sedetik tidak banyak pengaruhnya kok. Makanya, jangan langsung tancap gas start apalagi sampai jump start. Emangnya mau balap?
"Ini mengurangi kecelakaan kalau pengendara dari arah lain juga tidak sabar, lampu merah diterobos. Perilaku menerobos lampu merah dan melewati marka jalan juga membahayakan diri," jelas AKP Harry Setiyadi, Kasie Idik Lantas Polda Metro Jaya.
Sumber: Motor Plus Online
Posted at 06:09 pm by royaje
Permalink
|